Semarang – bapsi.undip.ac.id. Mahasiswa Magister Sistem Informasi Undip yang terdiri dari Hario, Chashif dan Mifthachur Robbani berhasil meraih Juara Pertama dalam Event Hackprint 1000 Startup Digital Semarang. 1000 Startup merupakan sebuah agenda kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menciptakan 1000 startup di tahun 2020. Dalam kompetisi ini, Tim UNDIP membuat inovasi teknologi untuk menjaga ekosistem hutan Indonesia yang bernama “Lindungi Hutan” yang dapat diakses di www.lindungihutan.org. Semenjak diluncurkan pada 18 Desember 2016, Lindungi Hutan berhasil membantu 4 area konservasi hutan di Jawa Tengah dengan jumlah pohon yang tertanam sebanyak 3.472 pohon. Pohon ini merupakan hasil donasi melalui aplikasi Lindungi Hutan.

Aplikasi ini bertujuan untuk menciptakan gotong royong dalam menjaga hutan Indonesia. Aplikasi ini menghubungkan 5 elemen penting dalam menjaga hutan, yaitu pemerintah, penduduk lokal sekitar hutan, donatur, akademisi dan komunitas. Setiap orang dapat melakukan donasi untuk pembelian bibit dan perawatan tanaman. Donasi tersebut akan diberikan kepada masyarakat lokal yang bersedia membantu dalam merawat pohon di hutan. Adapun system dari aplikasi ini yaitu masyarakat yang menjadi partner Lindungi Hutan berkewajiban memberikan informasi tentang perkembangan dan perawatan pohon selama 3 bulan sekali. Penanaman pun dilakukan setiap tahun di hutan tersebut, sehingga tercipta hutan digital yang dapat dipantau dimana dan kapan saja oleh masyarakat. Aplikasi Lindungi Hutan dapat digunakan di berbagai tempat yang terdapat masalah alam. Masyarakat dapat memantau perkembangan pohon mulai dari tinggi, diameter, hidup dan mati pohon, serta emisi CO2 yang ditimbulkan oleh pohon.

Menurut Hario yang merupakan CEO Lindungi Hutan, “Lindungi hutan mempunyai misi untuk menciptakan karya yang bisa memberdayakan masyarakat lokal untuk merawat hutan dan menciptakan keseimbangan ekosistem hutan melalui teknologi, dengan mengajak semua elemen masyarakat untuk berkontribusi.” ujarnya. Isu Global Warming, kerusakan hutan dan polusi udara menjadi salah satu hal yang memotivasi tim UNDIP untuk membangun aplikasi ini.